Showing posts with label Lain-Lain. Show all posts
Showing posts with label Lain-Lain. Show all posts

Sunday, March 20, 2011

Golden Key: Tender Di Tengah Pengusutan


12 Maret 1994

SETELAH satu bulan kasus Eddy Tansil bergulir, isu kredit macet akhirnya dibicarakan dalam sidang kabinet terbatas, Rabu pekan lalu. Pada pertemuan yang penting itu, Presiden Soeharto tampaknya bukan saja menaruh perhatian ekstra, tapi juga menggariskan beberapa petunjuk. Menurut Menteri Penerangan Harmoko, mengenai kredit macet dan kredit bermasalah di Bapindo, Presiden menegaskan bahwa pengusutan dan penyelidikan tetap harus dilanjutkan. Dan sepekan sebelumnya, Kepala Negara juga menyampaikan pesan tentang kredit macet kepada Menteri Negara Sekretaris Negara Moerdiono dan Jaksa Agung Singgih. Isi pesan itu -- seperti dikatakan oleh sebuah sumber TEMPO - ialah agar penanganan kredit macet diluruskan sedemikian rupa sesuai dengan kewenangan lembaga pemerintah (Departemen Keuangan, Bank Indonesia, Departemen Perindustrian, dan Kejaksaan Agung) masing-masing.
Harus diakui, kredit macet Eddy Tansil itu telah memancing reaksi di kalangan luas -- jadi, tak lagi beredar di kalangan dunia usaha dan perbankan saja. Isu tersebut juga telah membuat investor asing waswas. Kabarnya, ada yang menarik dana -- dalam jumlah besar -- dari pasar uang dan pasar modal, lalu menukarnya dengan dolar untuk dikirim ke luar (lihat Hari-Hari Lonjakan Dolar). Sementara itu, pabrik tekstil Kanindo milik Robby Tjahyadi nyaris terserempet gara-gara pernyataan seorang anggota FKP di DPR -- tentang kredit macet. Belum lagi rush penarikan dana dari Bank Harapan Sentosa di Bogor. Wajarlah bila para pengusaha sama-sama gusar.
"Kita harus menghindari munculnya isu-isu yang bersifat politis, yang dapat menimbulkan berbagai potensi konflik dan disintegrasi," kata Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aburizal Bakrie. Menurut Aburizal, kredit macet tanpa unsur kriminalitas -- misalnya karena konjungtur ekonomi -- hendaknya diselesaikan secara lain. Jadi, tak perlu dibawa ke kejaksaan. Sebagian bankir pun tak mengerti peran instansi-instansi pemerintah dalam menangani kredit macet. Menurut seorang bankir swasta, urusan kredit hendaknya dikembalikan kepada direksi bank yang bersangkutan (Bapindo) dan Bank Indonesia. BI memang bertugas mengawasi dan membina kredit macet dalam perbankan.
Kasus Bapindo sendiri sebenarnya sudah ditangani BI serta direksi bank-bank pemerintah sejak enam bulan lalu. Namun, upaya itu terhenti ketika kasus ini diledakkan di DPR oleh Arnold Baramuli. Selain cara-cara penanggulangan kredit Eddy Tansil dipersoalkan orang, penguasaan aset Golden Key Group serta rekening milik Eddy Tansil -- yang tidak menjadi agunan kredit Bapindo -- juga sempat merisaukan kalangan bisnis. Soalnya sederhana: Eddy Tansil belum diadili, tapi aset-asetnya (Golden Key) sudah akan dijual dalam tender terbuka. Benar, bos Golden Key, Eddy Tansil, sudah dapat diperkirakan tak akan mampu melunasi utangnya di Bapindo. Masalahnya, kelima proyek Golden Key yang dijaminkan untuk kredit US$ 430 juta (dengan bunga menjadi lebih dari Rp 900 miliar) mestinya sudah berproduksi sejak tahun lalu sehingga ia bisa mencicil utangnya. Ternyata, pembangunan proyek-proyek Golden Key itu jauh dari rampung.
Kalaupun pabriknya berdiri, proyek itu diperkirakan akan rugi karena anggaran pembangunannya telah membengkak (cost over-run) hingga dua kali lipat. Anggaran untuk proyek PT Dinamika Erajaya telah digelembungkan dari Rp 211 miliar menjadi Rp 420 miliar. Proyek PT Graha Swakarsa Prima diperbesar dari Rp 205 miliar menjadi Rp 504 miliar. Lalu, biaya proyek PT Hamparan Rejeki juga dibengkakkan dua kali jadi Rp 428 miliar. Kini, untuk mengatasi kredit yang sudah macet tersebut, Departemen Keuangan dan BI kabarnya akan menempuh pola yang mirip dengan pola penyelesaian krisis Bank Summa. Tidak sama betul, memang. Ketika Bank Summa dilanda krisis karena kesalahan manajemen, selain aset Bank Summa, aset-aset di luar bank itu, seperti saham Astra milik keluarga William Soeryadjaya, juga dijual.
Untuk menutup uang Bapindo yang amblas di Golden Key, mungkin sekali aset Golden Key dijual, berikut kekayaan Eddy Tansil, serta mungkin juga kekayaan pejabat Bapindo. Aset Golden Key yang kini dikuasai Departemen Keuangan adalah PT Graha Swakarsa Prima, PT Hamparan Rejeki, dan PT Pusaka Warna Poly Prophylene. Menteri Keuangan yakin bahwa ketiga proyek itu akan laku kalau dijual. "Jangan tanya harganya. Pokoknya, akan laku," Mar'ie menandaskan. Mar'ie agaknya tak berlebihan. Humpuss Group milik Hutomo Mandala Putera telah menyatakan minatnya membeli PT Hamparan Rejeki, yakni anak perusahaan Golden Key yang telah membangun pabrik bahan baku benang (serat akrilik). "Sebagai pengusaha, kalau ditawarkan dengan yang baik, kami berminat," kata salah seorang direktur Humpuss, Bernardino M. Vega. Namun, ditambahkannya, hal itu masih dipertimbangkan lebih jauh. Soalnya, ada atau tidak industri hilir yang menjadi pasar produk Hamparan Rejeki.
Mungkin karena yakin bisa laku, Menteri Keuangan berucap tentang tender terbuka untuk aset Golden Key. Namun, tender terbuka itu barangkali akan kurang diminati pengusaha. "Kalau tender terbuka, urusannya akan lama dan harga belum tentu yang paling tinggi," kata seorang pengurus Kadin. Menurut dia, Kadin siap membentuk suatu konsorsium untuk mengumpulkan uang guna membeli proyek Golden Key yang macet. Usul ini, katanya, sudah diajukan kepada Menteri Keuangan. "Kalau Pemerintah setuju, Kadin siap membentuk konsorsium dan menyelesaikan pembelian dalam 1-2 bulan," kata orang Kadin tadi.
Kalau ada pengusaha nonpribumi ingin ikut serta, partisipasinya tak akan ditolak. Gagasan serupa juga timbul dari kalangan pengusaha nonpri. "Tapi harus bekerja sama dengan pengusaha pribumi dan BUMN," kata seorang bankir keturunan Cina. Kalau konsorsium pribumi saja yang mengambil oper, kalangan pengusaha nonpri khawatir akan timbul kesan, pengusaha nonpri (Eddy Tansil) yang makan, lalu pengusaha pribumi yang harus cuci piring.
Tapi seorang pengamat perbankan, Anwar Nasution, pesimistis konsorsium dapat menyelesaikan kasus kredit macet. "Terus terang saya tertawa mendengar ide itu," kata Anwar. Ia curiga, kalau masalahnya diserahkan ke konsorsium, ujung-ujungnya mereka akan minta kredit kepada bank pemerintah. Jadi, bisa menimbulkan masalah baru, yang "belum jelas juntrungannya." Rencana mengalihkan proyek Golden Key kepada BUMN juga dianggap aneh oleh Anwar Nasution. "Itu akan sama seperti kasus proyek baja canai dingin CRMI, yang rugi karena sudah di mark up oleh Salim Group, lalu dijual kepada PT Krakatau Steel," Anwar menambahkan. Menurut Anwar, kalau proyek Golden Key ternyata tidak layak, lebih baik dicoret dan dibukukan sebagai kerugian.
"Menurut UU Kepailitan, Bapindo mestinya sudah bangkrut. Kalau mau dipertahankan, bank ini perlu disuntik modal baru. Kalau tidak, nyatakan bangkrut atau digabungkan (merger) dengan bank lain," ujar Anwar. Lain halnya seorang bankir swasta yang berpendapat Bapindo tak perlu bangkrut. Kalau mau menolong, BI kan punya cadangan devisa. "Kasih saja pinjaman US$ 1 miliar (sekitar Rp 2 triliun) dengan bunga rendah. Katakanlah, bunga 4% per tahun, dan Bapindo menjual kredit dengan bunga 18% per tahun, maka akan untung 14% atau Rp 280 miliar setahun. Lima tahun sudah bisa menutup kerugian Rp 1,3 triliun itu," kata bankir yang tak mau disebut namanya itu. "Cara begitu tidak benar. Kredit macet itu tetap harus dikejar," ujar seorang bankir pemerintah pula. Hanya saja, apakah kredit itu dapat ditutup dari aset Golden Key plus aset dan rekening Eddy Tansil?
Menurut Anwar Nasution, kalau terkumpul 25%, sudah bagus. "Di Jepang, yang mapan perangkat hukumnya, kredit macet yang bisa diselamatkan rata-rata 40%. Sisanya hilang tak keruan. Saya tak yakin, di tangan kejaksaan bisa mendapat 25%," kata Anwar. Penjualan itu tentu baru dapat dilakukan jika pengadilan bisa membuktikan Eddy memang bersalah. Sementara itu, juru bicara Kejaksaan Agung, Dr. Suparman, S.H. M.H., telah memastikan kasus Eddy Tansil sebagai pidana murni. Suparman menambahkan, sekarang yang ditahan baru dua orang (Eddy Tansil dan Wakil Kepala Kantor Bapindo Cabang Jakarta). Kalau dari hasil pemeriksaan terdapat sepuluh terdakwa atau lebih, semuanya tentu akan ditahan juga. Tapi, apakah mereka juga harus mengganti semua kerugian Bapindo, pengadilanlah yang nanti memutuskan.
Prosesnya mudah- mudahan tak akan berlarut-larut seperti kasus Endang Widjaya, bos PT Jawa Building (developer kompleks Pluit), yang diadili lebih dari lima tahun gara-gara membobol Rp 23 miliar dari Bank Bumi Daya (BBD). Sekadar perbandingan, kasus Endang Widjaya telah merontokkan 13 pejabat teras DKI, direksi BBD, serta aparat pajak yang telah menerima hadiah dari Endang Widjaya. Bukan mustahil, sejarah BBD itu kelak berulang di Bapindo. Max Wangkar, Bambang Aji, dan Iwan Qodar Himawan

Dikembalikan, Membuat Susah


11 Desember 1993

MOBIL sport yang bisa lari kencang ternyata bikin susah. Setidaknya bagi petenis nomor satu Indonesia, Yayuk Basuki. Dua bulan lalu, Nissan ZX 300 V-6 Turbo, hadiah dari Aburizal Bakrie sewaktu Yayuk menembus peringkat 40 dunia, dikembalikannya setelah sekitar dua tahun digunakan. ''Saya bukan orang yang bisa ngerawat mobil seperti itu,'' alasan Yayuk. Memang enak kalau sedang tak ada masalah. Bisa keliling-keliling. ''Kadang, satu dua ada yang tidak beres, dan onderdilnya susah.'' Mengapa tidak dijual saja? ''Ini pemberian yang sangat berharga, masa mau dijual?''
Sebagai ganti, Aburizal memberinya Great Corolla. ''Lebih cocok buat saya,'' tambah Yayuk. Dengan mobil barunya, Yayuk kini mondar-mandir ke lapangan tenis Pati Unus, tempat ia berlatih hampir setiap hari. Sedikitnya 5 jam, pagi 3 jam sore 2 jam, ditemani pelatihnya yang juga tunangannya, Suharyadi. Rencananya, Yayuk bertanding ekshibisi dengan Steffi Graf di Jakarta, 4 Januari mendatang. Siapa tahu dengan mobil baru ini Yayuk bisa menang melawan Graf, yang selama ini belum pernah dikalahkannya.

Monday, March 14, 2011

Mereka Tinggal Di Mulut Naga


24 Agustus 1991

Tumbuhnya perumahan modern melahirkan Pecinan-Pecinan baru yang menghambat proses pembauran. Peran "Cino beri." PECINAN seperti tak pernah lekang dimakan zaman. Kampung para keturunan Cina itu bisa dijumpai di kota-kota besar negeri ini dari dahulu sampai sekarang. Sebagian sudah bersalin rupa. Dari kampung kumuh yang menyebarkan bau bawang dan hio menjadi real estate yang serba teratur dan mahal. Pecinan yang kerap dituduh sebagai lambang eksklusivisme keturunan Cina itu ternyata punya akar sejarah yang panjang. Banyak alasan yang menyebabkan keturunan Cina merasa lebih kerasan di Pecinan.
Syahdan, ketika pedagang Cina tiba di Batavia pada abad ke-15, alasan bermukim di Pecinan adalah kecocokan antara pedagang seketurunan. Ketika Belanda masuk pada 1659, pedagang Cina cenderung makin eksklusif karena alasan keamanan. Akibatnya, jumlah pedagang Cina di Pecinan kian meningkat. Seabad kemudian, Pecinan sudah terlalu sempit untuk menampung derasnya pendatang buruh kasar asal Cina. Maka, pada 1740 pecahlah pengangguran di kalangan orang Cina di Batavia, kini Jakarta. Cemburu dan baku hantam di antara mereka pun tak terhindarkan. Maka, pemerintah VOC Belanda memaksa orang-orang Cina yang luntang-lantung dan bikin kacau di luar masuk kembali ke Pecinan dengan alasan keamanan.
Kebiasaan hidup berkelompok di kalangan keturunan Cina ini terus terbawa-bawa sampai sekarang. Di Jakarta Pecinan kuno -- yang bangunannya masih khas Cina masih bisa dijumpai di kawasan Glodok atau Jatinegara. Sementara itu, Pecinan modern -- berupa real estate yang penghuninya sebagian besar keturunan Cina -- kian mekar. Mulai dari kawasan Pluit, Pantai Kapuk, Sunter Agung Podomoro, dan Kelapa Gading di Jakarta Utara, sampai permukiman seperti Greenville, Taman Ratu, Green Garden, Sunrise Garden di Jakarta Barat. Konon, ada kepercayaan Cina yang menggambarkan Jakarta sebagai seekor naga. Daerah paling bagus untuk berdagang adalah daerah mulut naga yang berarti daerah pelabuhan. Mulut naga Jakarta adalah pelabuhan Sunda Kelapa. Mungkin, ini alasan mengapa keturunan Cina suka tinggal di Jakarta Utara dan Barat.
Apa pun alasannya, tumbuhnya Pecinan-pecinan modern ini, sedikit banyak, memang menghambat proses pembauran. Salah satu perumahan yang bisa disebut Pecinan modern adalah Greenville. Permukiman yang dibangun tahun 1973 itu sekarang dipadati 11.750 penduduk. Di antaranya, sekitar 11 ribu adalah golongan keturunan Cina. Di sini, sudah tak ada bangunan khas Cina. Hanya satu-dua rumah yang masih memasang hio di depan. Kompleks golongan ekonomi menengah ini siang-malam dijaga 64 satpam. Seperti halnya Pecinan, di kompleks Greenville tersedia semua sarana. Mulai taman kanak-kanak sampai SMA, gereja, gedung olahraga milik Bimantara, klinik pengobatan, bank, sampai berbagai restoran. Yang disajikan juga khas: bebek asap hong kong, bakmi, atau chinese food lainnya. Mau mobil mewah? Di jalan utama kompleks itu ada ruang pamer Baby Benz. Itu sebabnya Ayung alias Junus Kosasih, 43 tahun, merasa cocok tinggal di sana. "Mungkin sudah jodoh, yah, begitu lihat kok rasanya pas," kata keturunan Cina yang sudah tujuh tahun menghuni di kompleks serba ada itu.
Greenville dipisahkan dengan Kampung Bali, kampung penduduk pribumi, oleh pagar seng dua meter yang ditopang beton kukuh. Dan, tentu saja, perbedaan tingkat ekonomi. Warga dua kompleks bertetangga itu jarang sekali bertemu. Paling-paling kalau ada perayaan peringatan Hari Proklamasi. Di Greenville biasanya diadakan lomba memanjat pohon pinang yang batangnya sudah diolesi oli. Ada saja anak Kampung Bali yang ikut. "Orang-orang kaya di sini senang melihat kita belepotan oli," kata Subur, 25 tahun, asal Kampung Bali, sambil tertawa, pekan lalu. Pecinan modern seperti Greenville ada di kota-kota besar lain. Di Bandung, ada kompleks Taman Sakura Indah di Jalan by pass Soekarno-Hatta. Dari seratus rumah di sana, hanya ada empat yang pribumi. Maklum saja, harga rumah di situ Rp 250 juta hingga sekitar Rp 2 milyar. Kompleks elite ini dijaga ketat oleh 40 satpam yang bergiliran menjaga 24 jam nonstop. Tiap bulan, ada penghuni yang dikenai uang keamanan dan kebersihan Rp 70 ribu. Ada juga yang dibebani Rp 200 ribu.
Warga Taman Sakura masih mengurus KTP-nya di perumahan kumuh yang berbatasan dengan kompleks itu. Kalau ada acara peringatan Hari Kemerdekaan, warga Taman Sakura biasanya menyumbangkan sejumlah uang "pengganti" karena tak bisa aktif membantu kegiatan perayaan, seperti pembuatan gapura dan membersihkan kampung. Apakah anak-anak Taman Sakura ikut berbagai jenis lomba? "Wah, kami tak memaksa. Lagi pula, mana mungkin anak-anak mereka ikut lomba makan kerupuk di sini," ujar Agus, ketua RW yang lokasi kerjanya persis berbatasan dengan tembok tinggi Taman Sakura. Kesenjangan hubungan antara kompleks keturunan Cina dan kampung pribumi, apa lagi kalau bukan karena perbedaan tingkat ekonomi yang agak mencolok. Fulus memang unsur penting untuk mempermulus pembauran.
Di kawasan Pecinan kuno Pinangsia, Jakarta, contohnya, keturunan Cina hidup berdampingan rukun dengan penduduk asli. Salah satu sebabnya, sekitar 17 ribu keturunan Cina di sini hampir sama tingkat penghidupannya dibandingkan empat ribu penduduk yang pribumi. Padahal, dibanding perumahan seperti Greenville, di Pinangsia sesungguhnya bau Cina terasa lebih pekat. Rumah para keturunan itu kebanyakan masih beratap khas seperti kelenteng. Hampir di tiap rumah ada altar untuk sembahyang dan guci tempat hio dibakar. Di pintu-pintu rumah, ada bentuk segi delapan yang dibingkai cermin yang merupakan lambang Yin dan Yang, unsur dingin dan panas menurut kepercayaan Cina. Pemandangan serupa dahulu tampak di segi tiga Senen, Jakarta Pusat, sebelum daerah itu dibongkar. Warung-warung makan yang ada juga menyajikan makanan khas Cina. Ada masakan Kanton. Ada pie oh, ada kodok oh. Pedagang bakmi ayam mendorong gerobak bertuliskan suiki auw. Tiap malam, penjaja sate babi keluar masuk lorong.
Toh tokoh Islam seperti Kiai Ali Murtadho, 60 tahun, bisa hidup di lingkungan itu. Kiai asal Cirebon ini tiap minggu menyelenggarakan pengajian di sebuah masjid di lokasi Pecinan itu tanpa gangguan apa pun. Ketika masuk waktu salat, Kiai Ali tak sungkan mengumandangkan azan lewat pengeras suara keras-keras. Kalau Jumat, warga keturunan Cina tak pernah memprotes ditutupnya beberapa jalan kecil untuk Jumatan. "Mereka tahu diri," kata Kiai Ali lagi. Sebaliknya, ia tak merasa terganggu menghirup bau hio ketika sedang salat di masjid. "Itu kepercayaan mereka. Di sini kami saling menghargai," kata kiai yang sudah bermukim di Pecinan sejak 1962 itu.
Proses pembauran yang mulus juga terjadi di kampung Cina di Balong, Solo. Sekitar setengah abad lalu, tempat ini sengaja disiapkan pemerintah kolonial Belanda untuk menampung keturunan Cina. Kini, bukan hanya keturunan Cina yang bermukim di Balong. Bahkan, dari 350 jiwa, hanya 40% yang keturunan Cina. Sisanya pribumi. Proses pembauran berjalan melalui berbagai cara, antara lain perkawinan. Adalah Kromo, kini 69 tahun, yang mengawini gadis Cina bernama Mely, sekarang 60 tahun. Perkawinan ini menghasilkan lima anak dan delapan cucu. Sampai sekarang pasangan Kromo-Mely masih menetap di Balong. Mereka berdagang kain mori di Pasar Klewer, Solo. Seperti halnya penduduk Balong yang pribumi, keturunan Cina di sana juga mencari nafkah dari membuka warung, salon, pertukangan kayu, buruh bengkel, atau berdagang di Pasar Klewer. "Katakanlah kami ini golongan cino beri," seloroh penduduk keturunan Cina bernama Liong.
Yang dimaksud cino beri adalah keturunan Cina kelas teri. Liong, 37 tahun, menghidupi dua anaknya dengan membuka warung kelontong kecil-kecilan di ruangan depan rumahnya. Kondisi rumahnya juga memprihatinkan, dindingnya papan yang sudah kusam, lantainya masih berupa tanah. Rumah berukuran 4 m X 8 m itu sewanya murah, hanya Rp 60 ribu setahun. Mungkin karena sama-sama melarat itu penduduk Balong bisa kompak. Bila malam tiba, pos kamling penuh pemuda Jawa dan Cina. Selain menjaga keamanan, mereka kerap main catur atau memetik gitar mendendangkan lagu dangdut. Karena kerapatan hubungan inilah Balong terhindar dari kerusuhan rasial yang meletus di Solo pada 1980. Sewaktu rumah para keturunan Cina dibakar dan mobilnya dijungkirbalikkan, Balong tetap tenang. Bahkan, menurut Sing To, penduduk Balong berusia 48 tahun, beberapa keturunan Cina di Balong bertindak sebagai juru damai.
Namun, keturunan Cina di luar Balong, yang rata-rata lebih kaya, seperti halnya di beberapa kota besar lain di negeri ini, agaknya masih cenderung eksklusif. Kadang-kadang pengelompokan seperti itu tak sepenuhnya direncanakan. Kemampuan ekonomi untuk memiliki rumah di kawasan tertentu berharga ratusan juta misalnya, juga ikut menentukan pengelompokan tadi. Bukan rahasia lagi, golongan keturunan Cina memang punya kemampuan yang lebih baik dibandingkan yang pribumi. Itu sebabnya kemudian mereka seperti berkumpul di berbagai real estate mewah.
Namun, kecenderungan eksklusif di antara keturunan Cina tak hanya urusan tempat tinggal. Dalam memilih karyawan di perusahaannya, keturunan Cina dianggap suka mengutamakan golongannya sendiri. Sebuah perusahaan konglomerat di sebuah gedung kawasan Segi Tiga Emas, Jakarta, seperti disaksikan TEMPO, hampir semua karyawannya adalah keturunan Cina. Yang berkulit cokelat paling-paling hanya mentok sebagai juru tulis atau resepsionis. Ketika TEMPO menanyakan soal ini pada sang big boss, alasan yang dikemukakan adalah soal kenyamanan bekerja. "Kalau kita berasal dari budaya yang sama, etos kerja yang sama, tentu lebih mudah bekerja sama," kata taipan muda itu.
Di sebuah bank besar, pembedaan antara pribumi dan nonpri konon sampai ke urusan gaji. Adalah Denok (bukan nama sebenarnya), yang bekerja dua tahun di cabang pembantu bank tadi di kawasan Kuningan. Setahun kemudian, masuk seorang keturunan Cina dengan ijazah dan job yang sama, dan prestasi yang, kata Denok, kurang lebih sama, "tapi sekarang gaji yang nonpri itu lebih tinggi 25 persen dari saya," katanya. Menurut dia, ini berlaku untuk hampir semua karyawan yang pribumi. Kasus serupa menimpa Joko, juga nama samaran, karyawan Bank Internasional Indonesia. "Saya yakin, gaji saya lebih kecil 10-15% dari yang keturunan Cina," katanya. Dalam hal promosi, ia mengakui BII tak memandang golongan, tapi menilai prestasi. Tak kurang dari Presdir BII Indra Widjaja yang membantah keterangan Joko. Katanya, gaji di BII diberikan berdasarkan skala. Kalau jenis pekerjaan dan kualifikasinya sama, tak mungkin gajinya berbeda. "Skala gaji itu terbuka, bisa dilihat siapa saja. Kalau mereka dibedakan, bisa menuntut," Widjaja menjelaskan.
Lippobank mengakui bahwa pembedaan pri dan nonpri hanya untuk urusan tugas. Jadi, kata Direktur Eksekutif Laksamana Sukardi, jangan heran kalau ada satu bagian yang seluruhnya keturunan Cina. Misalnya, Divisi Investasi Taiwan, "akan lebih baik kalau dipakai pegawai yang nonpri," kata Laksamana. Jabatan kepala cabang Lippo di Jakarta Kota, pusat keturunan Cina di Jakarta, pasti akan dijabat yang nonpri. Kepala cabang Pondok Indah dipilih yang pribumi. Kalau untuk tugas berhubungan dengan pedagang eceran yang umumnya nonpri, Lippo pasti menugasi yang nonpri juga. Sebaliknya, kata Laksamana, kalau berurusan dengan BUMN, lebih baik kalau karyawan pribumi yang menghadap. Soal jenjang karier, Laksamana menunjuk anggota direksi: tiga dari lima direksi adalah pribumi. Jumlah karyawan pri dan nonpri di sana juga fifty-fifty. Perusahaan konglomerat Astra milik William Soeryadjaya kabarnya termasuk yang tak memberlakukan diskriminasi kepada pribumi. Di dewan direkturnya sekarang ini ada tiga pribumi. Enam direktur lainnya adalah nonpri. Di jajaran komisaris, tiga dari sembilan komisaris adalah pribumi. Ir. Benny Subianto, Wakil Presiden Direktur yang berdarah campuran Madura-Sunda, menjelaskan bahwa sikap Astra ini terbawa dari pribadi William sebagai the top di Astra. "Mantu Om Willem pribumi. Keponakannya juga kawin dengan pribumi. Saudara kandungnya juga menikah dengan orang Lampung beragama Islam. Sejak muda, Om Willem menganggap dirinya asli Majalengka," cerita Subianto.
Aburizal Bakrie, bos Grup Bakrie, merasa perlu menampung sebanyak mungkin tenaga kerja pribumi. "Sesuai dengan komposisi jumlah penduduk, dong, 95 persen karyawan Bakrie adalah pribumi. Di perusahaan milik nonpri seharusnya komposisinya mencerminkan jumlah yang banyak itu," kata Ical, panggilan Aburizal. Ical mengkritik keras jalan pikiran yang menganggap pribumi tak punya etos kerja yang lebih baik dari nonpri. Ia menunjuk pedagang-pedagang zaman Sriwijaya yang sejak dahulu sudah dikenal sebagai pedagang-pedagang tangguh. Ia juga menolak membedakan ras dalam komunikasi. "Jangan karena di sana nonpri di sini pri lalu kita tak bisa berkomunikasi. Itu sikap eksklusif yang perlu dihilangkan," ujar Ical. Yang juga ditentangnya adalah policy sengaja menempatkan pegawai nonpri untuk berkomunikasi dengan golongannya. Atau pri dengan pri. "Ini suatu sikap nonkebangsaan."
Kalau sikap ini bisa dihilangkan, barangkali perusahaan nonpri bisa menerima lebih banyak karyawan pribumi. "Jangan pribumi cuma dipakai untuk tukang sapu," kata Ical. Ada benarnya. Dinding yang memisahkan antara pribumi dan keturunan Cina memang masih belum cair. Cara pemecahannya, agaknya, lebih banyak terpulang pada sikap kaum keturunan itu jua. Toriq Hadad, Dwi S. Irawanto, Bambang Sujatmoko, Ahmad Taufik, dan Kastoyo Ramelan

Memasuki Era Limusin


06 Juli 1991

DALAM waktu dekat, rapat bisnis bisa diselenggarakan sambil jalan, kendati lalu lintas hiruk-pikuk. Fasilitas untuk itu disediakan oleh Volvo limusin, mobil bikinan Indo Mobil Group, yang dilengkapi lemari es, mesin faks, meja tulis, dan pesawat telepon. Presdir Indo Mobil Subronto Laras mengatakan, ada 40 eksekutif yang sudah memesan Volvo limusin, di antaranya Aburizal Bakrie dan Liem Sioe Liong, yang adalah pemilik Grup Indo Mobil. Harganya? Untuk yang standar, dan belum on the road, harganya tak kurang dari Rp 245 juta. Sedan yang bisa memuat tujuh penumpang ini panjangnya 5,6 meter -- termasuk tipe Volvo 960 yang sudah beredar sejak tahun silam.
Tapi, khusus untuk limusin, Indo Mobil menambah investasi Rp 40 milyar, demi meningkatkan kemampuan beberapa peralatan di PT Ismac ( Indo-Swedish Manufacturing), itu perakit Volvo yang menghasilkan pelbagai jenis sedan sampai ambulans. Setiap bulan, PT Ismac akan membuat sekitar 20 unit limusin. Sasaran pertama adalah Jakarta dan Surabaya. Menurut Soebronto Laras, kelak limusin ini akan diekspor, antara lain, ke Jepang dan Inggris. Kalau sudah ekspor, per tahunnya akan dibuat 500 unit. "Soalnya, Volvo di Swedia sendiri tidak membuat limusin," ujar Bronto. Dalam persiapan produksinya, dua orang ahli dari Volvo Swedia didatangkan dan dua orang dari Volvo Jakarta dikirim ke Jerman -- negeri yang sudah lama dikenal sebagai pembuat limusin.

Saturday, March 12, 2011

Pameran Seni Lukis


23 Maret 1991
BANYAK cara untuk merayakan ulang tahun. Bagi Tatty Aburizal Bakrie, ulang tahunnya ke-40 diramaikan dengan pameran seni lukis, Senin pekan lalu. Yang ditampilkan lukisan Arie Smith, pelukis asal Belanda yang sudah lama menetap di Bali. "Dan bagi saya inilah kado ulang tahun yang paling mengesankan," kata Nyonya Aburizal Bakrie ini. Apa itu? Lukisan yang dipajang sebagian besar terjual dan uang Rp 45 juta lebih sudah dikantonginya. Ini pameran Bakrie Art Collection yang kedua yang diadakan Yayasan Seni Bakrie di Wisma Bakrie, Jakarta.
Tahun lalu, pameran diselenggarakan bertepatan dengan peresmian yayasan seni itu. Waktu itu hasil jual lukisan mencapai Rp 30 juta. Sama seperti sekarang, hasil lukisan disumbangkan kepada Yayasan Ahmad Bakrie -- yang bergerak di bidang pendidikan termasuk pemberian beasiswa pada mahasiswa tak mampu. Tatty, ibu tiga anak yang masih singset ini, bertekad terus mengembangkan galerinya. Dana tak jadi soal. "Tapi Pak Ical (panggilan suaminya) cuma ngasih modal awal saja, lo, seterusnya cari sendiri," katanya. Ia membantah punya galeri hanya un- tuk gagah-gagahan. "Yang saya lakukan bukan snobisme, tapi meningkatkan apresiasi seni masyarakat," katanya lagi.

Ulang Tahun Bersama


24 November 1990

Perayaan ulang tahun Panglima ABRI Jenderal Try Sutrisno, 55 tahun, kali ini tampaknya lebih sejuk. HUT itu dirayakan Jenderal Try bersama pengusaha beken Aburizal Bakrie di Wisma Bakrie, Jakarta, Kamis malam pekan lalu. Pada hari itu, Ical -- panggilan akrab Aburizal juga berulang tahun ke-44. Acara bersama itu pun berlanjut dengan dibukanya pameran 120 lukisan koleksi Ical oleh Jenderal Try.

Thursday, March 10, 2011

Pagelaran Orkes Simfoni


25 Februari 1989

JARANG-jarang ulang tahun sebuah perusahaan dirayakan dengan nanggap orkes simfoni. Dan ini yang dilakukan PT Bakrie & Brothers, Sabtu malam dua pekan lalu. Puncak perayaan ulang tahunnya ke-47 dimeriahkan di Gedung Kesenian Jakarta dengan pergelaran ISI Yogyakarta Symphony Orchestra. "Semasa hidup, Ayah menginginkan orkes simfoni bisa berkembang di Indonesia," kata Aburizal Bakrie, 43 tahun, Wakil Presdir Bakrie & Brothers. Ayahnya, Achmad Bakrie, pengusaha yang dikenal ulet dan sukses itu, meninggal 15 Februari tahun lalu.
Meneruskan cita-cita Almarhum, Aburizal yang biasa dipanggil Ical lantas menghubungi Mochtar Kusuma-Atmadja. Maksudnya mau memanggil orkes simfoni yang bernaung di bawah Yayasan Nusantara Orkestra yang memang dipimpin bekas menteri luar negeri itu. Sayangnya, orkes mi sudah penuh jadwal mainnya. Mochtar lalu menyarankan agar Ical memanggil orkes simfoni milik Institut Kesenian Indonesia (ISI) Yogya. Dan kata Mochtar pula, seperti yang ditirukan asisten Humas PT Bakrie & Brothers, Dayan A.P. Adiningrat, "minta orkestra yang semiklasik, supaya lebih mudah dipahami." Pergelaran orkes dengan suguhan semiklasik itu pun dinikmati ratusan undangan, antara lain hadir Mochtar Kusuma Atmadja serta adiknya, Menpan Sarwono, dan Menteri P dan K Fuad Hassan. Tentu pula puluhan pengusaha. Dan Ical semakin yakin, "Orkestra punya banyak peminat." Tak disebutkan apakah ia lantas berminat untuk membuat orkestra, misalnya dengan nama Bakrie & Brothers Symphony Orchestra atau Orkes Simfoni Pelita Jaya. Dan, dipergelarkan di Stadion Lebak Bulus?

Sumber: Majalah Tempo

Patriot Tanpa Senjata


22 Agustus 1987

MUSIM lewat, tahun bertukar, 17 Agustus datang lagi. Perayaan pun bergerak. Juga kenangan, juga perasaan. Prosesi beredar, sampai ke tepi-tepi kampung. Ada yang menyanyikan lagu Syukur dan bulu roma berdiri dan mata jadi basah. Orang-orang tua membayangkan, apa jadinya seandainya bangsa ini masih diinjak orang putih dari Negeri Belanda ("Mungkin kita akan seperti Afrika Selatan," seseorang berkata). Yang lain mengingat mereka yang terbunuh dalam perang tiga abad yang sengit untuk sebuah kemerdekaan. Sampai 17 Agustus 1945 itu tiba, juga setelah itu: ketika kemerdekaan itu dipertahankan di antara pasukan-pasukan gerilya dan rombongan-rombongan perundingan.
Dengan pengalaman yang berbeda, dan sudut pandang yang tak selalu sama, inilah pendapat sejumlah orang ketika proklamasi kemerdekaan diperingati pekan lalu:
CHRISTINE HAKIM, 31, artis film, pemeran Cut Nyak Dien. Pemegang lima piala Citra. "Saya selalu merenung setiap menyaksikan perayaan hari itu. Sekadar ramai-ramai dengan tujuh belas kali dentuman meriam? Apa arti perayaan itu bagi generasi saya, yang tak mengalami perang kemerdekaan? Ketika melakonkan Pahlawan Cut Nyak Dien, saya menyaksikan sendiri betapa beratnya medan hutan di Aceh Barat dan Selatan. Bulu roma saya berdiri. Terbayang di mata bagaimana Cut Nyak Dien bisa bertahan enam tahun di hutan yang ganas itu untuk menebus kemerdekaannya. Kalau kita tak dapat menghargai yang seperti itu, kita berkhianat. Setelah mempelajari pahlawan wanita Aceh itu, keyakinan saya agar konsisten dan konsekuen dalam hidup, bertambah. Saya harus berani lapar, saya harus berani sakit.
ABURIZAL BAKRIE, 41, Wakil Presiden Direktur PT Bakrie Brothers, sebuah perusahaan terkemuka di Jakarta. Yang mesti dilakukan pada masa sekarang, bagaimana kita ikut mencari jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi bangsa tanpa merugikan perusahaan. Bentuknya bisa beragam. Misalnya dalam pemakaian tenaga ahli asing. Banyak pengusaha yang lebih suka memakai tenaga asing dengan alasan: sekalipun dibayar lebih mahal, kerjanya efisien. Saat ini kami punya 10.000 pegawai dengan cuma lima tenaga asing. Menurut saya, adalah tindakan yang patriotik kalau saya berhasil memperjuangkan tempat kerja bagi orang Indonesia, meskipun posisi modal saya 30: 70 atau 40: 60, lebih besar modal asingnya. Di perkebunan karet PT USP di Sumatera Utara, misalnya, di antara sekian ribu karyawan, cuma ada satu tenaga asing. Padahal, di perusahaan itu modal saya lebih kecil dari si asing. Di samping itu, kita tak usah ikut-ikutan menyimpan uang di luar negeri dalam keadaan negara kekurangan devisa. Simpanlah di dalam negeri.
KWIK KIAN GIE, 52, Ketua Dewan Direktur Institut Manajemen Prasetiya Mulya dan direktur berbagai perusahaan. Bekas juru kampanye PDI. Buat apa mengubah nama? Saya yakin benar itu tak ada sangkut-pautnya dengan rasa cinta terhadap bangsa. Banyak teman saya tak mengubah nama tapi cintanya terhadap negara ini benar-benar. Tiga anak saya namanya Kwik Ing Hie, Kwik Mu Lan, dan Kwik Ing Lan. Saya berusaha keras agar mereka memiliki rasa kebangsaan yang besar dan murni. Itu ditumbuhkan dengan meyakinkan mereka dari sekarang bahwa sebagai WNI keturunan mereka akan menghadapi masalah jika dewasa kelak. Sekarang pun sudah ada masalah: Ada teman sebaya yang sering menggoda mereka dengan olok-olok "anak Cina". Di kalangan pengusaha masih perlu ditingkatkan rasa senasib sepenanggungan serta rasa kebersamaan. Agar kita dapat bersaing dengan negara lain. Para pelaku ekonomi kita cenderung mengabaikan patriotisme, karena itu dianggap tak relevan. Padahal, bangsa yang sudah lama merdeka, malah tak pernah dijajah, berkalikali memperlihatkan patriotisme dalam ekonomi. Lihat orang Eropa ketika terkena oil shock. Secara sukarela mereka meredupkan lampu dan memperkecil alat pendingin. Untuk menghemat energi.
SUTJIATI EKA TJANDRASARI, 20, mahasiswi, Putri Remaja 1985, dan pemenang lomba karya ilmiah remaja LIPI, 1984. Baru sepekan saya pulang dari London ikut pendidikan musim panas, satu bulan. Sebelumnya saya ke Jerman Barat menemani Papa memeriksakan kesehatan. Papa sakit jantung dan ginjal, setiap tahun dia ke sana. Di London teman kos ada dua gadis Inggris dan seorang gadis Spanyol. Saya heran, mereka seusia dengan saya tapi telah mempunyai rencana yang pasti untuk masa depan. Sedang saya selalu masih goyah. Eropa memang idaman saya untuk melanjutkan studi. Kota-kotanya memesonakan, cowoknya ganteng-ganteng. Tapi saya tak pernah membayangkan pacaran dengan cowok bule. Saya kira nilai-nilai yang kita anut nggak nyambung dan akan menimbulkan problem keluarga. Hubungan kekerabatan sulit, pergaulan mereka terlalu bebas, dan tak mau membantu orang tua. Nggak tahu mengapa, saya memang begitu. Saya juga tak ingin bekerja di luar negeri. Inginnya di Aceh, atau Manado, pokoknya masih negeri sendiri.

Sumber: Majalah Tempo

Gelar Orang Muda Berkarya


08 November 1986 
DALAM sehari Aburizal Bakrie kaget dua kali. Ceritanya, Sabtu pekan lalu, ia ikut terpilih sebagai satu dari lima "Orang Muda Berkarya Tingkat Nasional 1986", yang diumumkan di Kantor Menpora, Jakarta. "Soalnya, umur saya sudah tua, 40 tahun. Ketika mengisi formulir, saya sudah bilang, apa masih pantas," kata orang nomor dua di PT Bakrie Brothers ini. Insinyur elektro dari ITB ini sebenarnya tak perlu kaget. Salah satu kriteria pemilihan menentukan, usia calon antara 21 dan 40 tahun. Akan halnya Aburizal, bapak tiga anak, baru 15 November nanti ia persis 4C Artinya, lima juri (yang diketua oleh Juwono Sudarsono, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI) yang sudah di atas 40, masih menganggap Aburizal anak muda. Kaget keduanya, karena "pembuat pipa baja" ini pun terpilih sebagai "Orang Muda Berkarya Tingkat Internasional 1986".
Pemilihnya sudah tentu Jaycees International yang berkantor di Florida, AS. Untuk tahun ini terpilih tujuh orang muda yang berkarya tingkat internasional, yang penobatannya akan dilangsungkan di Nagoya, Jepang, Rabu pekan depan. "Lumayan, saya bisa ke Jepang dengan gratis," kata Aburizal, yang tak lagi kaget (dan cemas, mungkin), toh, dalam penobatan itu nanti ia pun masih 40 tahun kurang 3 hari. Inilah pemilihan pertama dari Indonesia Jaycees, yang sebenarnya telah berdiri pada 1969. Wadah eksekutif muda ini merupakan organisasi nonpolitik, tak membedakan warna kulit, dan keanggotaannya bersifat terbuka. Berdiri pertama kali sebagai Junior Chamber Movement pada 1915 di AS, kemudian diubah menjadi Junior Chambers of International pada 1972 kini punya 75 cabang di seluruh dunia.
Jaycees International menetapkan 13 kriteria bagi calon terpilih. Antara lain, keberhasilan berwiraswasta dan berinovasi di bidang ekonomi, keberhasilan di bidang politik atau membantu program pemerintah, keberhasilan dalam kepemimpinan akademis. Untuk terpilih secara internasional, setidaknya tiga kriteria terpenuhi. Berapa kriteria dipenuhi oleh Aburizal, yang pernah jadi juara karate se-Jawa Barat, tak jelas. Adapun empat yang lain pilihan Indonesia Jaycees adalah Guruh Sukarno, Iwan Jaya Azis Pratiwi Soedarmono, dan Seto Mulyadi. "Saya jadi tambah semangat," komentar Guruh. Akan halnya Seto, kemenangannya ini diduganya karena ia berdomisili di Jakarta, dan sering diwawancarai media massa. "Jadi, sebenarnya kebetulan," ujarnya.
Ada yang tak muncul, hari itu, yakni Pratiwi Soedarrnono, calon astronaut Indonesia itu. "Yang saya takuti, setelah pemilihan ini, orang jadi sinis pada saya," katanya. "Soalnya, saya merasa tak pantas menerima predikat itu. Saya 'kan belum terbukti berkarya," ujar Pratiwi kepada Sayadi, wartawan TEMPO. Satu lagi, Iwan Jaya Azis, 33, Ketua Departemen Ekonomi & Studi Pembangunan Universitas Indonesia, juga tak hadir. Yang satu ini alasan absennya jelas: sedang jadi dosen tamu di Jepang.

Sumber: Majalah Tempo